ASPEK BIOLOGIS DARI KEPRIBADIAN


ASPEK BIOLOGIS DARI SEBUAH KEPRIBADIAN

MAKALAH

Diajukan Sebagai Tugas Terstruktur
Pada Mata Kuliah Psikologi Kepribadian
Dosen Pengampu : Dr. Hj. Eti Nurhayati

Oleh :

ABDU AZIS AHMADI
Nim. 505920034

PROGRAM PASCA SARJANA
KONSENTRASI PSIKOLOGI PENDIDIKAN ISLAM
INSTITUT AGAMA ISLAM SJEKH NURJATI
CIREBON 2011
Aspek Biologis Dari Sebuah Kepribadian

I. Pendahuluan
Kepribadian menurut Gordon W. Allport1 adalah suatu organisasi yang dinamis dimana individu atas sistem-sistem psikofisis yang menentukan penyesuaian dirinya yang khas terhadap lingkungannya. Maksud dinamis pada pengertian tersebut adalah perilaku yang mungkin saja berubah-ubah melalui proses pembelajaran atau melalui pengalaman-pengalaman, reward, punishment, pendidikan dsb.
Kepribadian adalah ciri, karakteristik, gaya atau sifat-sifat yang memang khas dikaitkan dengan diri kita. Dapat dikatakan bahwa kepribadian itu bersumber dari bentukan-bentukan yang kita terima dari lingkungan, misalnya bentukan dari keluarga pada masa kecil kita dan juga bawaan-bawaan yang dibawa sejak lahir. Jadi yang disebut kepribadian itu sebetulnya adalah campuran dari hal-hal yang bersifat psikologis, kejiwaan dan juga yang bersifat fisik. Menurut Cattel (1973),2 ada banyak faktor pembentuk kepribadian seseorang yang bersifat sosiokultural, tetapi yang paling berperan dan paling berpengaruh dalam membentuk tingkah laku atau kepribadian seseorang adalah keluarga. Disamping itu ada pranata-pranata lain yang patut dipertimbangkan, yaitu pekerjaan, sekolah, kelompok sebaya, agama, lingkungan dan lain-lain, yang ternyata memainkan peranan yang sama menentukannya dalam mendeskripsikan seorang individu.

Kepribadian Manusia berdasarkan Aspek Biologis

Sebenarnya berbicara tentang kepribadian manusia berdasarkan beberapa kriteria tertentu sangatlah sulit. Kendalanya terletak pada heterogenitas dan keunikan sifat manusia. Tidak ada satu manusia pun yang dapat dianggap memiliki sifat yang sama kemudian dikelompokkan berdasarkan sifat itu. Selain itu manusia bersifat dinamis dan beruba-ubah sesuai hasil belajar dan kondisi lingkungan. Meskipun ia orang kembar sangatlah sulit untuk menganggap saatu kelompok kepribadian. Ilmu pengetahuan hanya bisa melakukan pendekatan agar beberapa ciri yang agak mirip dikelompokkan menjadi beberapa kelompok kepribadian. Seperti diketahui, kepribadian adalah ciri, karakteristik, gaya atau sifat-sifat yang memang khas dikaitkan dengan diri kita. Dapat dikatakan bahwa kepribadian itu bersumber dari bentukan-bentukan yang kita terima dari lingkungan, misalnya bentukan dari keluarga pada masa kecil kita dan juga bawaan-bawaan yang dibawa sejak lahir. Jadi disebut kepribadian itu sebetulnya adalah campuran dari hal-hal yang bersifat psikologis, kejiwaan dan juga yang bersifat fisik.

Berdasarkan aspek biologis,3 Hipocrates membagi kepribadian menjadi 4 kelompok yaitu :
a. Kepribadian Sanguin
Sanguin adalah orang yang selalu gembira, yang senang hatinya, mudah untuk membuat orang tertawa, dan bisa memberi semangat pada orang lain. Tapi kelemahannya adalah dia cenderung impulsive, yaitu orang yang selalu bertindak sesuai emosi atau keinginannya.
b. Kepribadian Plegmatik
Tipe plegmatik adalah orang yang cenderung tenang, dari luar cenderung tidak mempunyai emosi, tidak menampakkan perasaan sedih ataupun senang. Naik turun emosinya itu tidak nampak dengan jelas. Orang ini memang cenderung bisa menguasai dirinya dengan cukup baik, ia introspektif sekali, memikirkan kedalam, bisa melihat, menatap dan memikirkan masalah-masalah yang terjadi di sekitranya. Kelemahan orang plegmatik adalah ia cenderung mau ambil mudahnya, tidak mau susah, sehingga suka mengambil jalan pintas yang paling mudah dan gampang.
c. Kepribadian Melankolik
Tipe melankolik adalah orang yang terobsesi dengan karya yang paling bagus, yang paling sempurna dan dia memang adalah seseorang yang mengerti estetika keindahan dalam hidup ini. Persaannya sangat kuat, sangat sensitif maka kita bisa menyimpulkan bahwa cukup banyak seniman yang memang berdarah melankolik. Kelemahan orang melankolik, ia mudah sekali dikuasai oleh perasaan dan cukup sering perasaan yang mendasari hidupnya sehari-hari adalah perasaan murung.
d. Kepribadian Kolerik
Seseorang yang berkepribadian kolerik adalah seseorang yang berorientasi pada pekerjaan dan tugas, dia adalah seseorang yang mempunyai disiplin kerja yang sangat tinggi. Kelebihannya adalah dia bisa melaksanakan tugas dengan baik, setia dan akan bertanggung jawab dengan tugas yang diembannya. Kelemahan orang yang berciri kolerik ini adalah kurangnya kemampuan untuk bisa merasakan perasaan orang lain (empati), belas kasihannya terhadap penderitaan orang lain juga agak minim, karena perasaannya kurang bermain.

Faktor-faktor yang mempengaruhi kepribadian :
1. Faktor Genetik
Faktor genetik atau keturunan mempunyai peranan dalam perkembangan sebuah kepribadian. Hal ini sesuai dengan para penganut aliran nativisme,4 yang berpendapat bahwa sifat bawaan, keturunan adalah faktor penentu dalam perkembangan kepribadian seseorang. Asumsi yang mendasari aliran ini adalah bahwa pada diri anak dan orang tua terdapat banyak kesamaan, baik fisik maupun psikis. Menurut aliran ini setiap manusia memiliki gen yang dipindahkan dari orang tua atau nenek moyang kepada keturunannya dan membawa sifat-sifat yang diturunkannya.
2. Faktor Lingkungan
Sebagaimana dikemukakan oleh penganut aliran empirisme,5 lingkungan merupakan faktor penentu perkembangan kepribadian seorang individu. Asumsi psikologis aliran ini adalah bahwa manusia lahir dalam keadaan netral, tidak memiliki pembawaan apapun, bagaikan kertas putih (tabula rasa) yang dapat ditulisi apa saja yang dikehedaki, dan sebuah kepribadian yang dimiliki oleh seseorang itu disebabkan oleh pengaruh lingkungan dalam proses kehidupannya.
3. Faktor Stimulasi Gen dan Cara Berfikir
Berdasarkan penelitian akhir 2007, yang dilakukan oleh Kazuo Murakami, dalam bukunya The Divine Message of the DNA.6 Menyimpulkan bahwa kepribadian sepenuhnya dikendalikan oleh gen yang ada dalam sel tubuh manusia. Gen tersebut ada yang bersifat Dorman (tidur) atau tidak aktif dan yang bersifat aktif. Bila kita sering menyalakan gen yang tidur dengan cara positif thinking maka kepribadian dan nasib kita akan lebih baik. Jadi genetik bukan sesuatu yang kaku, permanen dan tidak dapat dirubah.
Setiap orang yang diciptakan Tuhan sudah dilengkapi dengan kepribadian. Kepribadian itu sebetulnya adalah pemberian Tuhan ditambah dengan pengaruh lingkungan. Selain faktor genetik, para ahli menyebutkan bahwa faktor pendidikan dan faktor lingkungan juga sangat berperan dalam menentukan kepribadian seseorang. Perpaduan kedua faktor itu dinamakan Anna Anastasia, dimana keduanya membentuk kepribadian manusia. Pendapat tersebut sesuai dengan aliran kovergensi yang dipelopori oleh Willian Stren,7 yang menyebutkan bahwa kepribadian seseorang ditentukan oleh faktor hereditas dan faktor lingkungan. Menurut aliran ini hereditas tidak akan berkembang secara wajar apabila tidak ada rangsangan dari faktor lingkungan. Sebaliknya, rangsangan lingkungan tidak akan membina perkembangan tingkah laku yang ideal tanpa didukung oleh faktor hereditas. Penentuan kepribadian seseorang ditentukan oleh kerja yang integral antara faktor internal (potensi bawaan) maupun faktor eksternal (faktor lingkungan).

Tipologi Kepribadian Hubungannya dengan Minat Kerja
John L Holland,8 seorang praktisi yang mempelajari hubungan antara kepribadian dan minat pekerjaan, mengemukakan bahwa ada enam tipe atau orientasi kepribadian pada manusia.
1. Tipe realistik
Yaitu, orang yang menyukai pekerjaan sifatnya konkret dan sistematis, seperti mengoperasikan mesin, peralatan. Tipe seperti ini tidak hanya membutuhkan keterampilan, komunikasi, atau hubungan dengan orang lain, tetapi dia memiliki fisik yang kuat. Bidang karier yang cocok, yaitu perburuhan, pertanian, barber shop, dan konstruksi.
2. Tipe Intelektual/Investigative
Yaitu, orang yang menyukai hal-hal teoritis dan konseptual, cenderung pemikir daripada pelaku tindakan, senang menganalisis, dan memahami sesuatu. Biasanya menghindari hubungan langsung dengan manusia lainnya (sosialisasi). Tipe ini cocok bekerja di laboratorium penelitian, seperti peneliti, ilmuwan, ahli matematika.
3. Tipe sosial
Yaitu, orang yang senang membantu atau bekerja dengan orang lain. Dia menyenangi kegiatan yang melibatkan kemampuan berkomunikasi dan keterampilan berhubungan dengan orang lain, tetapi umumnya kurang dalam kemampuan mekanikal dan sains. Pekerjaan yang sesuai, yaitu guru/pengajar, konselor, pekerja sosial, guide, dan bartender.

4. Tipe Konvensional
Yaitu, orang yang menyukai pekerjaan terstruktur atau jelas urutannya, mengolah data dengan aturan tertentu. Pekerjaan yang sesuai, yaitu sekretaris, teller, filing, dan akuntan.
5. Tipe Usaha/enterprising
Yaitu, orang yang cenderung mempunyai kemampuan verbal atau komunikasi yang baik dan menggunakannya untuk memimpin orang lain, mengatur, mengarahkan, dan mempromosikan produk atau gagasan. Pekerjaan yang sesuai dengan tipe ini adalah sebagai sales, politikus, manajer, pengacara atau agensi iklan.
6. Tipe artistik
Yaitu, orang yang cenderung ingin mengekspresikan dirinya, tidak menyukai struktur atau aturan, lebih menyukai tugas-tugas yang memungkinkan dia mengekspresikan diri. Karier yang sesuai dengan tipe ini, yaitu sebagai musisi, seniman, dekorator, penari, dan penulis.

Tipologi Manusia menurut Kretschmer dilihat dari Keadaan Jasmani
Kretschmer9 menggolongkan manusia berdasarkan bentuk tubuhnya menjadi empat :
1. Tipe piknis, yaitu orang yang mempunyai ciri tubuh montok-bulat, dengan sifat khas :
– Badan agak pendek,
– Dada membulat, perut besar, bahu tidak lebar,
– Leher pendek dan kuat,
– Lengan dan kaki lemah,
– Kepala agak “merosot” ke muka di antara kedua bahu, sehingga bagian atas dari tulang punggung kelihatan sedikit melengkung,
– Banyak lemak, sehingga urat-urat dan tulang-tulang tak kelihatan nyata.
2. Tipe Astenik, yakni jasmani yang ringkih dan linear
Orang yang bertipe astenik orangnya kelihatan tinggi jangkung. Sifat-sifat khas tipe ini ialah :
– Badan langsing/kurus, jangkung,
– Perut kecil, bahu sempit,
– Lengan dan kaki lurus,
– Tengkorak agak kecil, tulang-tulang dibagian muka kelihatan jelas,
– Muka bulat telur,
– Berat relatif kurang.
3. Tipe Atletis
Pada orangyang bertipe atletis ukuran tubuh antara menegak dan mendatar dalam perbandingannya kelihatan seimbang, sehingga tubuh kelihatan selaras; tipe ini dapat dipandang sebagai sintetis dari tipe piknis dan tipe astenik. Sifat-sifat khas tipe ini ialah :
– Tulang-tulang serta otot dan kulit kuat
– Badan kokoh dan tegap-tinggi cukupan
– Bahu lebar dan kuat
– Perut kuat
– Panggul dan kaki kuat dalam perbandingan dengan bahu dan kelihatan agak kecil
– Tengkorak cukup besar dan kuat, kepala dan leher tegak
– Muka bulat telur, lebih pendek dari tipe leptosom
4. Tipe Displastis
Tipe ini merupakan penyimpangan dari ketiga tipe di atas, tidak dapat dimasukkan ke dalam salah satu di antara ketiga tipe itu, karena tidak memiliki ciri-ciri yang khas menurut tipe-tipe tersebut. Tipe ini meliputi sejumlah kecil kasus dimana aspek-aspek yang menyimpang pada bentuk tubuh individu, sehingga bagi orang awampun akan tampak “aneh”. Kretschmer sendiri menganggap tipe displastis ini menyimpang dari konstitusinormal.

Dari keempat tipologi tersebut tidak dijelaskan tentang bagaimana hubungannya antara tipe-tipe manusia tersebut dengan kepribadian seseorang, tetapi Kretschmer hanya menjelaskan keyakinannya bahwa ada kesinambungan antara keadaan jasmani dengan pola-pola tingkah laku. Akan tetapi hubungan tersebut hanya merupakan suatu dugaan, karena Kretschmer tidak memberikan bukti secara langsung atas pendapatnya itu.

Tipologi Manusia Menurut Temperamennya
Menurut Sheldon,10 kepribadian manusia menurut temperamennya dibagi ke dalam tiga komponen yaitu :
Pertama, tempramen viskeretonia, yaitu individu yang mempunyai ciri-ciri suka akan kenyamanan, pergaulan, menyukai berbagai macam makanan dan mempunyai kasih sayang. Sikap santai, tenang dan terbuka dalam pergaulan dan biasanya mudah diajak bergaul. Kepribadian jenis ini menurut Shelldon berpusat pada ronnga perut, system pencernaan adalah rajanya. Tujuan hidupnya demi kemaslahatan.
Kedua, tempramen somatotania, yaitu individu yang menyukai petualangan fisik, suka mengambil resiko, sangat membutuhkan kegiatan fisik yang berat. Orang ini bersifat agresif, tidak peka terhadap perasaan orang lain, berpenampilan lebih matang dari sebenarnya, suka ribut, pemberani dan mudah dalam ruangan yang sempit dan tertutup (klaustrofobia). Kekuatan dan kekuasaan merupakan tujuan hidupnya.
Ketiga, tempramen serebrotonia, yaitu individu yang mempunyai sifat mengendalikan diri, menahan diri dan suka menyembunyikan diri. Orang ini bersifat pemalu, tertutup, takut pada orang dan paling suka berada di tempat yang sempit dan tertutup. Sifat yang seperti itu membaawa dampak susah dalam menghadapi kesukaran, susah tidur dan senang menyendiri. Orang yang demikian selalu berusaha untuk tidak menarik perhatian.

Kepribadian Anak Kembar
Loehlin dan Nichols,11 meneliti 139 anak kembar yang mempunyai jenis kelamin sama (berusia rata-rata 55 bulan) dinilai oleh ibu mereka berdasarkan beberapa karakteristik kepribadian tertentu. Kembar identik dinilai jauh lebih serupa dalam hal reaktivitas emosional, tingkat aktivitas, dan kemampuan sosial, dibandingkan kembar fraternal. Jika tes kepribadian diberikan pada orang kembar, biasanya kembar identik memberikan jawaban yang lebih mirip daripada kembar fraternal. Namun, kemiripan ini mungkin disebabkan karena kembar identik sering mendapatkan perlakuan yang lebih mirip dibandingkan kembar fraternal.
Menurut Wilian Stern,12 penelitian yang dilakukan terhadap anak kembar yang diasuh secara terpisah dari pasangannya dan ditempatkan pada pengaruh lingkungan yang berbeda antara satu dengan yang lainnya. Pemisahan itu segera dilakukan setelah kelahirannya. Ternyata akhirnya anak-anak itu mempunyai sifat dan kepribadian yang berbeda, meskipun secara keturunan mereka dikatakan relative mempunyai kesamaan. Perbedaan kepribadian pada anak-anak tersebut disebabkan oleh perbedaan pengaruh lingkungan.

Kepribadian Skizofrenia
Skizofrenia adalah penyakit mental yang diakibatkan oleh gangguan susunan sel-sel syaraf pada otak manusia. Menurut Kretschmer,13 skizofrenia adalah jenis gangguan psikotik yang paling lazim dan cirinya adalah hilangnya perasaan afektif atau respon emosional dan menarik diri dari hubungan antar pribadi normal, serta seringkali dibarengi dengan delusi dan halusinasi. Seorang yang terkena penyakit ini ternyata bisa dikendalikan, tanpa harus memasukkan penderita ke rumah sakit jiwa. Dukungan keluarga dan teman, menjadi salah satu obat penyembuh yang sangat berarti, selain tentu saja dukungan para ahli medis. Hasil penelitian dalam dekade terakhir menunjukkan bahwa gangguan skizofrenia memang lebih dominan akibat faktor genetik, stres dan lingkungan pada awal perkembangan anak (selama kehamilan dan kelahiran, dan/atau anak usia dini).
Faktor ini mengakibatkan perubahan halus dalam otak yang membuat seseorang rentan untuk mengalami skizofrenia. Tekanan faktor lingkungan dan stres berkepanjangan (selama masa kanak-kanak, remaja dan dewasa muda), dapat merusak otak lebih lanjut dan memicu skizofrenia. Bahkan para ahli sekarang mengatakan bahwa skizofrenia (dan semua penyakit mental lainnya) disebabkan oleh kombinasi biologis, psikologis dan faktor-faktor sosial. Pemahaman tentang penyakit mental disebut bio psikomodel sosial.
Umumnya ada dua macam penyakit yang biasa disebut gila ini, yaitu neurosa dan psikosa. Skizofrenia termasuk psikosa. Penyebabnya sampai kini belum diketahui secara pasti, namun disebutkan faktor keturunan bisa menjadi salah satu penyebab. Bahkan, faktor genetik ini tampaknya sangat dominan. Menurut penelitian, apabila saudara ayah-ibu menderita skizofrenia, maka anak memiliki potensi sebesar 3% untuk mengidap skizofrenia. Apabila ada salah satu saudara sekandung yang menderita, maka anak berpotensi menderita skizofrenia sebesar 5%-10%. Dikaitkan dengan saudara kembar, apabila tidak kembar identik, maka potensi mengalami penyakit ini sebesar 5%-10%, sementara untuk anak kembar identik potensi menderita skizofrenia sebesar 25%-45%. Sedangkan jika penderita skizofrenia adalah salah satu dari kedua orang tua, maka anak berpotensi sebesar 15%-20%. Skizofrenia bisa menyerang laki-laki dan perempuan. Kebanyakan perempuan yang mengidap penyakit ini adalah mereka yang berusia 20 hingga awal 30-an tahun. Sementara pada kelompok jenis kelamin laki-laki itu biasanya lebih dini, yakni akhir usia remaja hingga awal 20-an tahun.
Gejala penderita skizofrenia antara lain : Delusi; Halusinasi; cara bicara/berfikir yang tidak teratur; perilaku negatif, seperti kasar, kurang termotivasi, muram, perhatian menurun. Ada cara-cara untuk menangani terhadap orang yang punya penyakit ini, yaitu sikap menerima adalah langkah awal penyembuhan; Penderita perlu tahu penyakit apa yang diderita dan bagaimana melawannya; Dorongan atau spirit dari keluarga merupakan faktor terpenting dalam penyembuhan seorang skizofrenia. Keluarga harus membantu menumbuhkan sikap mandiri dalam diri si penderita. Mereka harus sabar menerima kenyataan, karena penyakit skizofrenia sulit disembuhkan. Sedangkan perawatan yang dilakukan para ahli bertujuan mengurangi gejala skizofrenia dan kemungkinan gejala psychotic; Penderita Skizofrenia biasanya menjalani pemakaian obat-obatan selama waktu tertentu, bahkan mungkin harus seumur hidup.
Kegagalan berfikir mengarah kepada masalah dimana penderita schizophrenia tidak mampu memproses dan mengatur pikirannya. Kebanyakan penderita tidak mampu memahami hubungan antar kenyataan dan logika. Karena penderita dan logika. Karena penderita schizophrenia tidak mampu mengatur pikirannya membuat mereka berbicara secara serampangan dan tidak bisa ditangkap secara logika. Ketidakmampuan dalam berfikir mengakibatkan ketidakmampuan dalam mengendalikan emosi dan perasaan. Hasilnya, kadang penderita schizophrenia tertawa sendiri atau berbicara sendiri dengan keras tanpa mempedulikan sekelilingnya. Semua itu membuat penderita schizophrenia tidak bisa memahami siapa dirinya, tidak berpakaian, dan tidak bisa mengerti apa itu manusia. Dia juga tidak bisa mengerti kapan dia lahir, dimana dia berada, dan sebagainya.
Penderita schizophrenia kehilangan motivasi dan apatis, hal ini berarti mereka kehilangan energi dan minat dalam hidup yang membuat penderita menjadi orang yang malas. Karena penderita schizophrenia hanya memiliki energi yang sedikit, mereka tidak bisa melakukan hal-hal yang lain selain tidur dan makan. Perasaan yang tumpul membuat emosi penderita schizophrenia menjadi datar. Penderita schizophrenia tidak memiliki ekspresi baik dari raut muka maupun gerakan tangannya, seakan-akan dia tidak memiliki emosi apapun. Tapi ini tidak berarti bahwa penderita schizophrenia tidak bisa merasakan perasaan apapun. Mereka mungkin bisa menerima pemberian dan perhatian orang lain, tetapi tidak bisa mengekspresikan perasaan mereka.
Depresi yang tidak mengenal perasaan ingin ditolong dan berharap, selalu menjadi bagian dari hidup penderita schizophrenia. Mereka tidak merasa memiliki perilaku yang menyimpang, tidak bisa membina hubungan relasi dengan orang lain, dan tidak mengenal cinta. Perasaan depresi adalah sesuatu yang sangat menyakitkan. Di samping itu, perubahan otak secara biologis juga memberi andil dalam depresi. Depresi yang berkelanjutan akan membuat penderita schizophrenia menarik diri dari lingkungannya. Mereka selalu merasa aman bila sendirian.
Dalam beberapa kasus, schizophrenia menyerang manusia usia muda antara 15 hingga 30 tahun, tetapi serangan kebanyakan terjadi pada usia 40 tahun ke atas. Schizophrenia bisa menyerang siapa saja tanpa mengenal jenis kelamin, ras, maupun tingkat sosial ekonomi. Diperkirakan penderita schizophrenia sebanyak 1% dari jumlah manusia yang ada di bumi.

Kepribadian Homoseksual
Menurut Freud,14 homoseksualitas merupakan gangguan kejiwaan, yaitu sebuah bentuk fiksasi (berhentinya perkembangan mental) dari satu dimensi dari tahap perkembangan mental perkembangan identitas jenis kelamin dan gangguan kepribadian sosiopathik. Artinya, orang yang memiliki orientasi seksual homoseksual memiliki kepribadian yang menyimpang dari norma sosial, dan penyimpangan ini harus diperbaiki.
Pribadi homoseksual ditandai oleh orientasi psikoseksual yang bersamaan dengan kondisi seks-biologisnya. Artinya, kepekaan erotik seksualnya lebih tertuju pada pasangan sesama jenis sehingga kepuasan erotik seksualnya pun baru bisa diperoleh bila mereka melakukan relasi seksual dengan pasangan sejenis. Bila terjadi pada laki-laki disebut homoseksual, sedangkan bila terjadi pada perempuan disebut lesbian. Penyebabnya adalah paduan dari faktor hormonal di satu sisi dan lingkungan pada sisi yang lain, seperti; pola asuh, pergaulan, dan pengalaman erotik seksual terdahulu yang mengesankan dirinya.
Mengacu pada penyebab utamanya, homoseksual dapat dikelompokkan dalam dua kelompok yaitu :
a) Homoseksual ekslusif, yaitu seseorang yang benar-benar tidak mampu mengendalikan ketertarikan erotik-seksualnya terhadap sesama jenis kelamin.
b) Homoseksual fakultatif, yaitu seseorang yang menjadi homoseksual karena keterbatasan yang amat sangat akan kehadiran lawan jenis di tempat di mana ia berada, seperti di penjara dalam waktu lama.
Menurut Zastrow15 ada beberapa labar belakang mengapa seseorang mempunyai orientasi seks pada sejenis, diantaranya :
1. Teori Biologi
Teori ini menerangkan bahwa seseorang mempunyai orientasi seks pada sejenis karena mereka mempunyai beberapa penyebab, diantaranya bisa dilihat dari genetika, anatomi (terutama bagian otak) serta hormonal.
Penyebab dari genetika melihat bahwa homoseksualitas telah diprogram melalui gen-gen. Lain halnya dengan anatomi, faktor ini dikarenakan bahwa ukuran otak orang yang mempunyai orientasi seks pada sejenis lebih kecil dari pada orang yang mempunyai orientasi seks pada lawan jenis. Namun teori ini telah dibantah karena argumen ini tidak didukung oleh bukti yang kuat. Selain itu dilihat dari sisi hormonal penyebab homoseksualitas terjadi karena tingkat perkembangan hormon tidak seimbang terutama yang terjadi pada masa remaja dan juga ada yang berpendapat perkembangan hormon yang abnormal pada masa anak dalam kandungan.
2. Teori Psikososial
Teori ini menerangkan bahwa homoseksualitas dapat muncul karena manusia mempunyai hubungan dengan lingkungan sekitarnya. Teori ini menerangkan bahwa setiap manusia selalu belajar dan melakukan adaptasi dengan lingkungan sekitarnya. Manusia dalam kehidupannya selalu dihadapkan pada stimulus dan respon, dan ketika hal ini berlangsung terus menerus individu mengalami penguatan (reinforcement) dan kepribadian seseorang terbentuk. Bergaul secara kontinyu dalam lingkungan yang mendukung perilaku menyimpang ini menyebabkan seseorang akan terpengaruh oleh “kepribadian” yang tidak lazim tersebut.

DAFTAR PUSTAKA

Abdul Mujib, “Nuansa-nuansa Psikologi Islam”, Jakarta, Raja Grafindo Persada, 2001
Calvin S. Hall, “Teori-teori Sifat dan Behavioristik”, Editor S. Supratikya, Yogyakarta, Kanisuis, 1993
Lita L. Atkinson, “Pengantar Psikologi”, Jakarta, Erlangga, 1993.
http://okezone.com
http://staft.blog.ui.ac.id
http://www.flicker.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: